Kebakaran Hutan dan Polusi Udara

Belakangan ini, polusi udara menjadi isu yang mulai populer di masyarakat, terutama di Jakarta. Saat cuaca tidak mendukung, jumlah partikel PM 2.5 secara konsisten tergolong tidak sehat, seperti pantauan sensor Nafas Indonesia. Partikel PM2.5 ini berbahaya bagi kesehatan, beberapa studi menunjukkan hubungan antara PM2.5 dengan penyakit jantung dan paru-paru, terutama bagi lansia dan anak-anak. Sebelum adanya Nafas Indonesia, stasiun pemantauan kadar PM2.5 di Jakarta hanya ada di Kemayoran (BMKG Pusat) dan milik Kedutaan AS.

Selain pemantauan yang mendeteksi PM2.5 dan memberikan informasi atau himbauan ke masyarakat tentang baik atau buruknya kondisi udara saat mereka beraktivitas, kita perlu juga mempunyai pemantauan di hulu. Sumber polusi udara bukan hanya satu, ini adalah salah satu alasan mengapa permasalahan polusi udara sangat kompleks. Sumbernya bisa dari aktivitas manusia atau alamiah, disengaja maupun tidak disengaja, regional ataupun lokal (bahkan hiperlokal). Adanya Nafas Indonesia, sebenarnya mampu mendeteksi sumber-sumber hiperlokal seperti pembakaran sampah yang marak di masyarakat. Namun kali ini, saya ingin membahas kebakaran hutan sebagai salah satu contoh ekstrim penyebab polusi udara.

Tanggal 6 Juli 2022, saya mengikuti kursus singkat tentang pemantauan kebakaran lahan dengan satelit generasi selanjutnya (next-gen satellite) dari EUMETSAT (rekaman dapat di tonton di: https://training.eumetsat.int/course/view.php?id=461). EUMETSAT akan meluncurkan satelit Meteosat Third Generation (MTG) dan Metop – Second Generation (Metop-SG), mereka menyelenggarakan kursus singkat ini untuk menunjukkan beberapa cara memanfaatkan data satelit yang nantinya akan diluncurkan ini, menggunakan beberapa “proxy data” atau data dari satelit serupa yang sudah operasional.

Sebelum kursus di mulai, ada beberapa paparan dari Dr. Federico Fierli sebagai pengantar dan gambaran besar dari pemantauan kebakaran. Kebakaran hutan ada fenomena kompleks yang sangat terkait oleh aktivitas manusia, untuk terjadinya kebakaran, perlu ada “pemantik” seperti petir atau aktivitas manusia, dipengaruhi oleh cuaca, kondisi vegetasi dan temperatur. Prediksi kebakaran dapat dilakukan dengan memantau resiko-resiko tersebut.

Sebagai contoh, pemantauan dan prediksi di Perancis terbagi menjadi tiga, sebelum kebakaran dengan memetakan resiko berdasarkan parameter cuaca dengan pemantauan satelit (earth observation). Setelah terjadinya kebakaran, dilakukan manajemen api dengan memantau perkembangan intensitas kebakaran melalui data real time resolusi tinggi. Setelah terjadinya kebakaran, dilakukan juga analisis dampak kebakaran seperti polutan dan area terbakar.

Kebakaran hutan adalah salah satu isu yang sudah mulai dimengerti oleh masyarakat. Dampak kebakaran di Sumatera Selatan beberapa tahun silam menjadi peringatan akan bahaya kebakaran terhadap kesehatan manusia dan juga perubahan iklim. Perubahan iklim juga dapat memengaruhi siklus kemarau dan kebakaran hutan, semakin panjang musim api dan semakin besar resiko dapat menambah bahaya dari kebakaran hutan.

Dari sisi pemerintah, saya lihat sudah ada sistem serupa yang dioperasikan oleh BMKG, LAPAN, dan BPPT (sebelum digabung ke BRIN). Data cuaca untuk kebakaran sudah dimiliki oleh BMKG, prediksi cuaca dari beberapa badan lain seperti ECMWF juga dapat digunakan oleh BMKG. Penginderaan jauh kondisi vegetasi menggunakan NDVI sudah lazim dilakukan oleh LAPAN dan BPPT, sementara ada juga indeks cuaca kebakaran (Fire Weather Index) yang dulu dikembangkan oleh tim dari LAPAN, BPPT, dan CFS, sekarang operasional di BMKG (SPARTAN). Saat mulai ada kebakaran, data hotspot dari LAPAN juga digunakan oleh berbagai pemilik konsesi lahan dan tim pemadam kebakarannya.

Fire Weather Index (https://gee-fwi.herokuapp.com)

Namun, apakah yang bisa masyarakat lakukan untuk mencegah kebakaran hutan? Pemerintah juga dapat memberikan edukasi untuk pemilik lahan agar tidak membakar lahan pada saat resiko tinggi, masyarakat juga bisa dihimbau untuk tidak menyalakan api di alam saat resiko kebakaran sedang tinggi. Ini juga saya rasakan di Finlandia di mana saat hiking di taman nasional, terdapat himbauan seperti ini. Sama juga di Norwegia, walaupun api unggun merupakan bagian dari kultur mereka, tapi saat kondisi cuaca rentan kebakaran, mereka menghindarinya.

Namun, berharap akan adanya perubahan sistem di pemerintah, ataupun mengharap masyarakat berubah, sepertinya bukan solusi yang baik. Layaknya Nafas Indonesia yang menggunakan urun daya atau gotong royong dari pihak yang mau memasang sensor mereka, mungkin hal serupa dapat dilakukan untuk deteksi kebakaran dini.

Sebagai contoh, Bosch belum lama ini merilis sensor gas dengan kecerdasan artifisial (AI) yang dapat diaplikasikan untuk kebakaran hutan. Saya membayangkan teknologi ini dapat diimplementasikan juga di hutan-hutan yang rentan di Indonesia, apalagi di musim kemarau panjang yang dapat mengganggu kondisi udara di tingkat regional. Namun, masyarakat sekitar juga perlu dilibatkan dalam pemeliharaan sensor tersebut, karena sejatinya merekalah stakeholder yang paling terpengaruh, jika terjadi kebakaran hutan di lokasi tersebut.

Deteksi dini kebakaran hutan dengan sensor Bosch + DRYAD

Saya menuliskan artikel singkat ini saat Indonesia tidak dalam siklus El Nino, mudah-mudahan saat kemarau panjang dan ekstrim melanda, tidak terjadi kebakaran hutan karena manajemen yang baik dari pemilik lahan, pemerintah setempat, dan pemerintah pusat.

Published by josefmtd

Electronics Engineer

One thought on “Kebakaran Hutan dan Polusi Udara

Leave a Reply to lazione budy Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: