Renungan: Kewajiban Terhadap Orang Tua

Disclaimer: Tulisan ini ditulis seorang awam Katolik, bersifat sebagai renungan pribadi yang ingin dibagikan bagi orang lain juga. Tulisan ini mengambil acuan dari buku Sirakh, salah satu bagian di Alkitab Deuterokanonika.

Kemarin (12 Januari) dan kemarin dulu (11 Januari), saya membaca beberapa cuitan menarik. Cuitan itu membahas bagaimana anak harus taat pada orang tua, secara spesifik satu cuitan membahas restu ibu. Banyak sekali pro-kontra, membahas kasus-kasusnya sendiri. Sebagai seorang Kristen, kita sudah diberi panduan yang sangat jelas untuk masalah hubungan dengan orang tua. Saya merenungkan sedikit dan hasil renungan ini saya tulisan di artikel ini. Relevankah buku yang ditulis ribuan tahun lalu untuk masalah hari ini?

Melihat pembahasan ini, saya jadi teringat bacaan di Ekaristi tanggal 29 Desember 2019, misa ini bertema Pesta Keluarga Kudus (cek: bacaan Misa), memusatkan bacaan terhadap hubungan dengan keluarga. Bacaan pertama dari kitab Sirakh 3, ditujukan khusus untuk anak, sedangkan bacaan kedua merupakan panduan bagi semua anggota keluarga (Kolose 3: 12-21).

Hai anak-anak, taatilah orangtuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. (Kolose 3: 20)

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. (Efesus 6: 1-3)

Dua ayat ini sudah sering diperdengarkan di kebaktian, misa, ataupun pendalaman alkitab atau pendalaman iman. Dasarnya juga jelas, dari sepuluh perintah Allah, hormatilah ayah dan ibumu. Kitab Sirakh bab 3 ini memberikan penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana seharusnya hal ini dilakukan di kehidupan sehari-hari. Artikel ini adalah hasil renungan kitab Sirakh bab 3, saya akan membaca kitab ini dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (versi: Good News Translation).

“Anak-anakku, dengarkanlah aku, bapamu, dan hendaklah berlaku sesuai dengan apa yang kamu dengar, supaya selamat. Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya”

“Children, listen to me; I am your father. Do what I tell you and you will be safe, for the Lord has given fathers authority over their children and given children the obligation to obey their mothers.”

Sirakh 3: 1-2

Secara jelas di sini dijelaskan bahwa kuasa dan hak untuk dituruti diberikan Allah kepada orang tua.

“Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya, akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya.”

If you respect your father, you can make up for your sins, and if you honor your mother, you are earning great wealth. If you respect your father, one day your own children will make you happy; the Lord will hear your prayers. If you obey the Lord by honoring your father and making your mother happy, you will live a long life.

Sirakh 3: 3-6

Setelah itu, segala berkat dan karunia Allah yang diberikan jika mengikuti perintah Allah ini: memulihkan dosa, mengumpulkan harta, kesukaan dari anak-anaknya kelak, doa dikabulkan, dan panjang umur. Semua ini didapatkan dari hormat terhadap orang tua dan memuliakan mereka.

“serta melayani orang tuanya sebagai majikannya. Anakku, hormatilah bapamu, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, supaya berkat dari padanya turun atas dirimu. Rumah tangga anak dikukuhkan oleh berkat bapa, tapi dasar-dasarnya dicabut oleh kutuk ibu. Jangan membanggakan nista bapamu. Memang nista bapa bukan kehormatan bagi dirimu! Sebaliknya kemuliaan seseorang terletak dalam menghormati bapanya, dan malu anak ialah ibu ternista.”

Obey your parents as if you were their slave. Honor your father in everything you do and say, so that you may receive his blessing. When parents give their blessing, they give strength to their children’s homes, but when they curse their children, they destroy the very foundations. Never seek honor for yourself at your father’s expense; it is not to your credit if he is dishonored. Your own honor comes from the respect that you show to your father. If children do not honor their mothers, it is their own disgrace.

Sirakh 3: 7-11

Ayat ketujuh menunjukkan bahasa yang keras, as if  you were their slave, atau layaknya orang tua adalah majikanmu. Jika menerima restu, kekuatan anak untuk membangun rumah tangganya akan diberikan, jika dikutuk, semuanya itu hilang. Selain itu, kita diingatkan juga untuk tidak menistakan orang tua sendiri, karena kemuliaan kita sendiri juga tergantung oleh hormatnya kita kepada orang tua.

Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah orang yang mengerasi ibunya.

My child, take care of your father when he grows old; give him no cause for worry as long as he lives. Be sympathetic even if his mind fails him; don’t look down on him just because you are strong and healthy. The Lord will not forget the kindness you show to your father; it will help you make up for your sins. When you are in trouble, the Lord will remember your kindness and will help you; your sins will melt away like frost in warm sunshine. Those who abandon their parents or give them cause for anger may as well be cursing the Lord; they are already under the Lord’s curse.

Sirakh 3: 12-16

Anak haruslah menolong orang tua saat umurnya sudah senja, jangan sampai ada perilaku yang menyakiti mereka saat akhir masa hidupnya. Hal ini yang menghasilkan pemulihan dosa pada saat masa pencobaan. Namun terkutuklah anak-anak yang meninggalkan orang tuanya di masa tuanya dan membangkitkan amarah mereka, samalah seperti menghujat Tuhan dan terkutuklah di hadapan Tuhan.

Akhir kata, enam belas ayat ini memberikan peringatan dan pedoman hidup kewajiban anak terhadap orang tuanya. Kitab ini sudah bertahan ribuan tahun, cerita ini bukan cerita baru dan sepanjang perjalanan waktu tetap ada di berbagai peradaban dan masyarakat.

Keluarga adalah satuan terkecil (atom) dari hidup bermasyarakat dan nilai-nilai tradisional yang diajarkan di keluarga tidak lekang oleh waktu. Zaman teknologi, keilmuan boleh maju pesat, tapi nilai ini merupakan nilai yang tidak boleh dilepaskan sampai kapanpun juga. Fakta dinamika kehidupan keluarga tetap sama, saat masa pendewasaan, hormatilah orang tua; saat membangun rumah tangga, carilah restu orang tua; di masa tua mereka, janganlah tinggalkan mereka dan jangan mengerasi mereka.