Wisdom as a Teacher

Wisdom takes care of those who look for her; she raises them to greatness. Loving her is loving life itself; rising early to look for her is pure joy. Anyone who obtains Wisdom will be greatly honored. Wherever he goes, the Lord will bless him. Wisdom’s servants are the servants of the Holy One, and the Lord loves everyone who loves her. Those who obey her will give sound judgments;those who pay attention to her have true security. Put your trust in Wisdom, and you will possess her and pass her on to your descendants. At first, Wisdom will lead you along difficult paths. She will make you so afraid that you will think you cannot go on. The discipline she demands will be tormenting, and she will put you to the test with her requirements until she trusts you completely. Then she will come to you with no delay, reveal her secrets to you, and make you happy. But if you go astray, she will abandon you and let you go to your own ruin.

Sirach 4: 11 – 19

My friend and I, mostly him, have wished for wisdom every time our Bible study group meet up and finished a study session. This process continued for a year when we were a freshman in University. Wisdom is something that everyone wants, they all search for it, and only few has it. After graduating, I found what we have been wishing so far, it was in the Deuterocanonical books in the Catholic bible. Wisdom of Sirach, wisdom passed from a father to his son. Finding the path of wisdom is one thing, walking the path is another. It will be tormenting, the discipline is not easy.

The fear of the LORD is the beginning of wisdom, and knowledge of the Holy One is understanding.

Proverbs 9: 10

We start with the fear of the LORD, I have been a Christian since birth, re-discovering Jesus and God was the beginning in my quest of wisdom. Searching for the wisdom, and finally finding the path, through this book, I will begin the quest by reading this book of Wisdom. Practicing it would be REALLY hard. Building the disciplines required will require enormous amount of willpower, if God be willing, I will try my best.

Renungan: Kewajiban Terhadap Orang Tua

Disclaimer: Tulisan ini ditulis seorang awam Katolik, bersifat sebagai renungan pribadi yang ingin dibagikan bagi orang lain juga. Tulisan ini mengambil acuan dari buku Sirakh, salah satu bagian di Alkitab Deuterokanonika.

Kemarin (12 Januari) dan kemarin dulu (11 Januari), saya membaca beberapa cuitan menarik. Cuitan itu membahas bagaimana anak harus taat pada orang tua, secara spesifik satu cuitan membahas restu ibu. Banyak sekali pro-kontra, membahas kasus-kasusnya sendiri. Sebagai seorang Kristen, kita sudah diberi panduan yang sangat jelas untuk masalah hubungan dengan orang tua. Saya merenungkan sedikit dan hasil renungan ini saya tulisan di artikel ini. Relevankah buku yang ditulis ribuan tahun lalu untuk masalah hari ini?

Melihat pembahasan ini, saya jadi teringat bacaan di Ekaristi tanggal 29 Desember 2019, misa ini bertema Pesta Keluarga Kudus (cek: bacaan Misa), memusatkan bacaan terhadap hubungan dengan keluarga. Bacaan pertama dari kitab Sirakh 3, ditujukan khusus untuk anak, sedangkan bacaan kedua merupakan panduan bagi semua anggota keluarga (Kolose 3: 12-21).

Hai anak-anak, taatilah orangtuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. (Kolose 3: 20)

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. (Efesus 6: 1-3)

Dua ayat ini sudah sering diperdengarkan di kebaktian, misa, ataupun pendalaman alkitab atau pendalaman iman. Dasarnya juga jelas, dari sepuluh perintah Allah, hormatilah ayah dan ibumu. Kitab Sirakh bab 3 ini memberikan penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana seharusnya hal ini dilakukan di kehidupan sehari-hari. Artikel ini adalah hasil renungan kitab Sirakh bab 3, saya akan membaca kitab ini dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (versi: Good News Translation).

“Anak-anakku, dengarkanlah aku, bapamu, dan hendaklah berlaku sesuai dengan apa yang kamu dengar, supaya selamat. Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya”

“Children, listen to me; I am your father. Do what I tell you and you will be safe, for the Lord has given fathers authority over their children and given children the obligation to obey their mothers.”

Sirakh 3: 1-2

Secara jelas di sini dijelaskan bahwa kuasa dan hak untuk dituruti diberikan Allah kepada orang tua.

“Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya, akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya.”

If you respect your father, you can make up for your sins, and if you honor your mother, you are earning great wealth. If you respect your father, one day your own children will make you happy; the Lord will hear your prayers. If you obey the Lord by honoring your father and making your mother happy, you will live a long life.

Sirakh 3: 3-6

Setelah itu, segala berkat dan karunia Allah yang diberikan jika mengikuti perintah Allah ini: memulihkan dosa, mengumpulkan harta, kesukaan dari anak-anaknya kelak, doa dikabulkan, dan panjang umur. Semua ini didapatkan dari hormat terhadap orang tua dan memuliakan mereka.

“serta melayani orang tuanya sebagai majikannya. Anakku, hormatilah bapamu, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, supaya berkat dari padanya turun atas dirimu. Rumah tangga anak dikukuhkan oleh berkat bapa, tapi dasar-dasarnya dicabut oleh kutuk ibu. Jangan membanggakan nista bapamu. Memang nista bapa bukan kehormatan bagi dirimu! Sebaliknya kemuliaan seseorang terletak dalam menghormati bapanya, dan malu anak ialah ibu ternista.”

Obey your parents as if you were their slave. Honor your father in everything you do and say, so that you may receive his blessing. When parents give their blessing, they give strength to their children’s homes, but when they curse their children, they destroy the very foundations. Never seek honor for yourself at your father’s expense; it is not to your credit if he is dishonored. Your own honor comes from the respect that you show to your father. If children do not honor their mothers, it is their own disgrace.

Sirakh 3: 7-11

Ayat ketujuh menunjukkan bahasa yang keras, as if  you were their slave, atau layaknya orang tua adalah majikanmu. Jika menerima restu, kekuatan anak untuk membangun rumah tangganya akan diberikan, jika dikutuk, semuanya itu hilang. Selain itu, kita diingatkan juga untuk tidak menistakan orang tua sendiri, karena kemuliaan kita sendiri juga tergantung oleh hormatnya kita kepada orang tua.

Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah orang yang mengerasi ibunya.

My child, take care of your father when he grows old; give him no cause for worry as long as he lives. Be sympathetic even if his mind fails him; don’t look down on him just because you are strong and healthy. The Lord will not forget the kindness you show to your father; it will help you make up for your sins. When you are in trouble, the Lord will remember your kindness and will help you; your sins will melt away like frost in warm sunshine. Those who abandon their parents or give them cause for anger may as well be cursing the Lord; they are already under the Lord’s curse.

Sirakh 3: 12-16

Anak haruslah menolong orang tua saat umurnya sudah senja, jangan sampai ada perilaku yang menyakiti mereka saat akhir masa hidupnya. Hal ini yang menghasilkan pemulihan dosa pada saat masa pencobaan. Namun terkutuklah anak-anak yang meninggalkan orang tuanya di masa tuanya dan membangkitkan amarah mereka, samalah seperti menghujat Tuhan dan terkutuklah di hadapan Tuhan.

Akhir kata, enam belas ayat ini memberikan peringatan dan pedoman hidup kewajiban anak terhadap orang tuanya. Kitab ini sudah bertahan ribuan tahun, cerita ini bukan cerita baru dan sepanjang perjalanan waktu tetap ada di berbagai peradaban dan masyarakat.

Keluarga adalah satuan terkecil (atom) dari hidup bermasyarakat dan nilai-nilai tradisional yang diajarkan di keluarga tidak lekang oleh waktu. Zaman teknologi, keilmuan boleh maju pesat, tapi nilai ini merupakan nilai yang tidak boleh dilepaskan sampai kapanpun juga. Fakta dinamika kehidupan keluarga tetap sama, saat masa pendewasaan, hormatilah orang tua; saat membangun rumah tangga, carilah restu orang tua; di masa tua mereka, janganlah tinggalkan mereka dan jangan mengerasi mereka.

Mencegah Banjir Jakarta: Teknologi Modifikasi Cuaca

Tahun Baru 2020, hari pertama diisi oleh kemalangan luar biasa, hujan deras melanda daerah Jabodetabek. Hujan deras ini menemani ramainya orang yang merayakan tahun baru, tahun berganti namun hujan ini tetap tidak berhenti. Alhasil, terjadilah banjir terparah di daerah Jabodetabek. Banjir ini memakan banyak korban jiwa, belum lagi kerugian materiil yang dialami berbagai pihak. Banyak kesedihan, banyak kemarahan, banyak kekecewaan, terhadap pemerintah, orang lain, dan diri sendiri. Kegaduhan terjadi karena sebab terjadinya banjir masih diperdebatkan, instansi pemerintahan terkait saling lempar tanggung jawab. Artikel kali ini bukan ingin menunjuk siapa yang salah, namun ingin menunjukkan adanya solusi.

Kerjasama Instansi Pemerintah

https://katadata.co.id/berita/2020/01/03/cegah-banjir-jakarta-bppt-modifikasi-cuaca-untuk-pangkas-hujan

Beberapa instansi pemerintah yang terkait dengan bencana air, mulai dari BMKG dan BNPB bekerjasama dengan BPPT yang memiliki teknologi modifikasi cuaca. Menggunakan armada pesawat dari TNI, terdapat sinergi antara 4 lembaga ini yang masing-masing perannya sebagai berikut:

  1. BMKG: pemantau awan penghujan
  2. BNPB: penanggulangan banjir
  3. BPPT: teknologi modifikasi cuaca
  4. TNI: armada pesawat dan awak untuk operasi modifikasi cuaca

Keempat lembaga ini masing-masing memiliki peran dan andil yang penting dalam operasi modifikasi cuaca. Namun, artikel ini akan lebih membahas teknologinya sehingga BPPT menjadi highlight utama dari artikel ini.

Teknologi Modifikasi Cuaca

Teknologi Modifikasi Cuaca adalah salah satu teknologi yang dimiliki oleh BPPT. Operasi modifikasi cuaca dimulai atas gagasan Presiden Soeharto, difasilitasi oleh Prof. BJ Habibie dengan bantuan dari Prof. Devakul dari Thailand. Sekarang, operasi modifikasi cuaca ada di bawah Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC). Secara singkat, operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk menghasilkan hujan buatan di suatu lokasi. Penerapan teknologi ini dapat dilakukan untuk mengurangi ataupun menambah curah hujan.

Berdasarkan artikel paper prosiding yang ditulis oleh tim BBTMC (lihat: prosiding BBTMC yang tersedia di web WMO), saya akan menjelaskan dengan singkat apa itu Teknologi Modifikasi Cuaca. Artikel paper ini membahas studi kasus pada dunia pertambangan, di mana modifikasi cuaca yang dilakukan adalah untuk mengurangi curah hujan, kasus yang sama dengan Jakarta sekarang.

Modifikasi cuaca pengurangan hujan yang dilakukan BPPT adalah berbasis benih higroskopis (hygroscopic seeding), atau pemberian garam kepada awan. Pemberian garam kepada awan untuk mengurangi hujan dapat dilakukan dengan dua metode, mekanisme jumping process dan mekanisme competition.

Mekanisme jumping process adalah mekanisme di mana awan penghujan yang berpotensi memberikan curah hujan tinggi dicegat sebelum sampai ke daratan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pesawat, menjatuhkan partikel garam seukuran 10 – 100μm. Partikel garam ini akan membuat hujan terjadi secepatnya, sehingga hujan terjadi di laut.

Mekanisme competition adalah mekanisme di mana awan yang mulai terbentuk di daratan diganggu partikelnya dengan menambahkan partikel garam yang lebih kecil. Partikel garam yang kecil ini “berkompetisi” dengan partikel air yang ada di awan, menyebabkan awan masuk ke kondisi yang stabil, sehingga menurunkan potensi hujan.

Kedua mekanisme ini dilakukan oleh BPPT untuk mengurangi hujan, dengan pesawat untuk melakukan mekanisme jumping process di lautan, dan dengan ground based generator untuk mekanisme competition di daratan. BPPT telah berhasil mengurangi curah hujan hingga 40% menurut Kepala BPPT Hammam Riza (baca: https://www.liputan6.com/news/read/4150878/turunkan-intensitas-hujan-jabodetabek-ini-fakta-seputar-teknologi-modifikasi-cuaca-bppt)

Kesimpulan

Teknologi Modifikasi Cuaca berfungsi dengan baik untuk menanggulangi peluang terjadinya banjir susulan di tengah ekstremnya cuaca di awal musim penghujan tahun 2020. Untuk mencegah adanya banjir ekstrem di awal musim penghujan, tetap diperlukan manajemen air yang baik untuk mencegah, sebelum menanggulangi banjir.

Toxic Masculinity in Media and Advertising

Toxic masculinity is a term commonly used by social activists to address the issues of masculinity, mainly credited to the Patriarchy. Toxic masculinity is such a partisan issue that most Conservative people do not really believe. The term toxic masculinity is not a new idea, it’s been engraved in our society for so long, pointing out toxic male behaviors have been common in the popular culture. Although, it recently gained more traction in midst of #MeToo movement.

Where did it come from originally? Toxic Masculinity was first used by psychologist Shepherd Bliss to separate negative traits of men from the positive ones. Bliss further defined that “avoidance of emotional expression”, “over-aspiration for physical, sexual, and intellectual dominance”, and the “systemic devaluation of women’s opinions, body, and sense of self.”

Several questionable behaviors of adult male, such as catcalling and other forms of sexual harassment is the leading cause of calling out the toxic masculinity. Surely, these problems and many others issued by the activists are very much real and happening right now, but what are the solutions?

This is where the media and advertising comes to play. Earlier this year we have been greeted by a Gillette ad campaign, “The Best a Man Can Be”. One can argue that this advertisement campaign is to pander for social activism cause, tackling the Toxic Masculinity. We can also argue that this campaign has failed terribly, receiving loads of backlashes. Recently, Gillette even loses $8 billion in valuation, conservative medias suggest that it’s due to the failing ad campaign, but more progressive medias highlight the decreasing consumer (caused by celebrities having beards) and more rival companies.

Toxic Masculinity is too commonly used to be taken seriously, although some of the negative traits are a real thing. Not enough discourse is taken to address this issue, the fact that the activists that like to use these terms see toxic masculinity in the perspective of the way it devalues woman makes it worse. As shown in the video, most of the solutions revolves around making men stop fighting, valuing women, stopping rough-housing plays, and stopping the use of “boys will be boys”. These ideas seem really good in paper, but this is not what an advertisement for a product should be telling us.

How the media addresses the Toxic Masculinity jargon isn’t much better at all. A few months back, Meryl Streep addresses the fact that “toxic masculinity” is not something that should be put together as two words, because women can be toxic, too. What raised my attention is that Meryl Streep also mentioned that “We hurt our boys by calling something toxic masculinity”. This is really important, and if I can compare this with the Gillette ads, where “boys will be boys” and young boys watching over-sexualized women in rapper songs are depicted, younger boys are the target of this issue. Young men recently have grown up believing the “toxic masculinity”, being fed with how most men, if not all are “toxic”. Heck, even here in Indonesia, we have this saying of: “all men are bastards, the ones that aren’t, they’re gay.”

(Conservative media reports; https://www.dailywire.com/news/47881/amen-meryl-streep-why-she-rejects-term-toxic-amanda-prestigiacomo)

(Progressive media reports: https://www.theguardian.com/world/2019/jun/01/seriously-meryl-streep-toxic-masculinity-doesnt-hurt-men-it-kills-them)

Young boys have been fed way too many of these guilt shame, they are starting to believe that the masculinity as mere violence. Condemning the toxic masculinity and abandoning the traditional masculinity. Obviously, one can argue that the traditional masculinity values are flawed, but if we keep attacking what it means to be a man without giving proper drive for these young boys. We will create nihilistic young men and these types of men are dangerous and can cause various issues since they can be manipulated to do various unimaginable things.

Let me present my case with a video example:

On this video, a young man asks about the concept of Toxic Masculinity being unfair to young men. It’s fairly evident that these types of conversation do not think of the boys, but always on how it will benefit young girls. This poor fella does not even have his proper answers. What is interesting to note is, is the proposed solution of creating an equal upbringing for young boys and girls. We surely know that men and women are different, we want different things in life, some might argue that this is due to societal pressure but others argue that it’s due to undeniable biological differences. Even in Sweden where we can see the closest to an egalitarian society in the world, the differences of university degree choice between men and women is fairly obvious.

We can’t hope to fix the male issues by focusing solely on the benefits for woman and keep beating the dead horse of how men are bad. Feminizing young men is not really a good long term solution, when we create weak men, we will be further dismayed by the effects of what bad men can do. This is where I argue that toxic masculinity portrayal in media and advertising is unfair towards young boys. Our young boys do not need more people telling us how bad it is to be a man and how they are guilty of the sins of older generations. We need to show them what it means to be a good and virtuous men, showing them the positive masculinity, how they can harness the masculine traits and use it for the good of society by adopting the necessary responsibilities.

These changes should not come from pressure from social activists. Definitely not from our men grooming products. The media isn’t really helping either, there’s only one way, through families, it should be the main priority to get the parents, both Mother and Father who equally have the big deciding factor for the kids growing up. These shall not be done in a negative manner demonstrated previously, but in a positive mark on how to make young boys adopt responsibilities and be courageous to standing up for the right things. Popular culture such as the superheroes franchise is one easy way of telling young boys how to act, how to be courageous, and how to adopt proper responsibilities. Not shaming these boys for crimes they have yet to commit by blasting these toxic masculinity and worsening the problems.

Disclaimer: This is not my typical content in this blog, but I feel a need to talk about this due to the recent development of the Gillette ad campaign and how it backfired.

Jesus on the Cross: Sacrifice is Not a Joke

As a Catholic, I am sad because of the resurfacing of an old video of a Q&A hosted by a famous Ustadz. It was not because of his answer, that is degrading the crucifix, specifically the Catholic crucifix. Catholics are the one who have Jesus on our Crucifixes, it is to remind us of the sacrifice He made on the cross, for everyone. It wasn’t because the fact that he spoke badly of the Crucifix in Catholic hospitals, the one that was built not only for Catholic patients, but for everyone.

It wasn’t all that, it was the laughter that ensues after the answer was given. Hearing the symbols of the greatest sacrifice being ridiculed is really sad. I was overwhelmed, who would have such an ill-intention of sharing these? The fact that the video was shared with a name of @KAJIANUSTADABDULSOMAD_ and was tagged with “follow and share” made it a bit worse. The Ustadz allegedly got reported to the police for the video, but the one sharing these video is the one that should be reported and facing the consequences. Because we did not have to hear that, sharing it only cause troubles and unneeded social problems.

Jesus has said in Matthew 5:38-42:

You have heard that it was said, ‘Eye for eye, and tooth for tooth. But I tell you, do not resist an evil person. If anyone slaps you on the right cheek, turn to them the other cheek also.And if anyone wants to sue you and take your shirt, hand over your coat as well. If anyone forces you to go one mile, go with them two miles. Give to the one who asks you, and do not turn away from the one who wants to borrow from you.

As a Catholic, we have always been taught not to struggle or resist any attacks that’s directed to us. Our pastors always have the same sentiment, it’s always due to what Jesus has said.

However, that’s not all, a backlash is coming, with a form of #KamiBersatuBersamaUAS trending topic and suddenly quotes like these are appearing:

“Follow the Ulama that’s hated by the infidels … ”

< A video of a Christian preacher spewing hate towards Muslim >

“This is probably common in their churches too”

“Why is everyone targeting our Ulama?”

This is heartbreaking, what have we done, as Catholics in Indonesia to receive this? Did we provoke you, dear brothers? We were slightly hurt by the Crucifix being degraded, but did you really have to put salt in our wounds? Our pastors do not rally us to do anything but to forgive. Yes, media reported that the Ustadz was reported, but turns out no reports have been given until today, said the NTT Police.

(https://www.viva.co.id/berita/nasional/1175413-ceramah-soal-salib-benarkah-ustaz-abdul-somad-dilaporkan-ke-polisi)

When I was a Protestant, I did hear some snide remarks from a preacher, but never once I heard a Catholic pastor speak in derogatory terms to our Muslim brothers. We do not hate, we do not insult you in our churches, we never spoke badly of your Ulamas. The Catholic institution, namely the Archdiocese of Jakarta has even been actively trying to promote our Unity in Diversity and Pancasila. We are trying to create a great relationship from within our church and to the society around us, we are not your enemy.

I ask my Catholic brothers to keep following the teaching of Jesus and the guidance from our pastors to not get offended by this. I hope no one will report the Ustadz, but rather I hope someone can find the one sharing the video and let a proper apology be uttered by that person.

I ask my Muslim brothers not to blow these up further, there’s no need to defend nor squabble. I understand that this is a teaching platform for you and it should be kept private.

I believe that to each one of us, our own religion, we should not be squabbling among ourselves, if we do, we’re only hurting ourselves, while people start to abandon religions at all, our common enemy is the same, those who want to paint all religious person as bad and ignorant, and let us not prove them right.

Rather than talking about #UAS, I would rather we talk about the pollution in Jakarta and how can we lessen the threat that is literally killing us slowly.

Disclaimer: This is my opinion and I welcome any feedback. I will not share any video that is mentioned.

Urun Daya Polusi Jakarta

Latar Belakang

Sidang perdana gugatan polusi udara Jakarta yang dilayangkan terhadap Pemerintah, termasuk Menteri LHK, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI, Gubernur Jawa Barat, Gubernur Banten, hingga Presiden RI, digelar hari ini tanggal 1 Agustus 2019. Gugatan warga negara ini dilayangkan oleh LBH Jakarta, Greenpeace Indonesi dan Walhi Jakarta. Hal ini disebabkan buruknya kualitas udara di Jakarta. Buruknya kualitas udara ini mulai ramai di media sosial, dengan sumber dari laman web AirVisual.

(Baca berita: https://megapolitan.kompas.com/read/2019/07/25/19360191/sidang-perdana-gugatan-polusi-udara-jakarta-digelar-1-agustus)

AirVisual mengumpulkan beberapa pembacaan sensor kualitas udara yang umumnya membaca jumlah partikel PM10 maupun PM2.5. Data dari AirVisual diperoleh dari BMKG, US Embassy, dan Greenpeace. BMKG menyatakan bahwa ketiga sensor, dua dari US Embassy dan satu milik BMKG di Kemayoran merupakan sensor berstandar internasional. BMKG juga menyatakan bahwa indeks kualitas udara di Indonesia yaitu ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) masih berbasiskan konsentrasi debu partikel PM10, sedangkan standar internasional sudah berbasis PM2.5. BMKG juga menyatakan bahwa selain ketiga sensor tersebut, sensor yang digunakan pada stasiun lain adalah sensor rendah biaya (low cost sensor) yang memiliki akurasi yang lebih rendah dibandingkan ketiga sensor berstandar internasional tersebut.

(Baca berita: https://news.detik.com/berita/d-4644102/bmkg-3-lokasi-pantauan-airvisual-di-dki-berstandar-internasional)

Gubernur DKI Anies Baswedan menyatakan bahwa beliau berencana menambah sensor agar ukuran kualitas udara di Jakarta lebih akurat. Gubernur Anies menjelaskan bahwa data dari AirVisual dari kedutaan Amerika saja, sehingga hanya menggambarkan kualitas udara di sekitar Gambir saja. Sementara sudah ada 8 alat yang dimiliki pemerintah DKI, dengan data yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Jakarta Smart City.

(Baca berita: https://kumparan.com/@kumparannews/anies-akan-tambah-sensor-kualitas-udara-di-jakarta-1rPOld0TR4m)

Permasalahan Polusi Udara

Polusi udara dengan dampaknya yang sudah banyak dibahas oleh jurnal medis yang menunjukkan adanya efek polutan PM2.5 terhadap kesehatan manusia, seperti kanker paru-paru dan masalah kardiovaskular. Selain itu, sudah ada deklarasi bahwa PM bersifat karsinogenik. Belum lama ini kita kehilangan tokoh dari BNPB akibat kanker paru-paru, apakah kita masih mau kehilangan tokoh-tokoh besar di masa depan akibat permasalahan yang sama?

(Baca jurnal: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24694836)

Masalah polusi udara ini harus dianggap serius, baik oleh Pemerintah maupun masyarakat. Apapun pilihan politik Anda baik di kontestansi Pilkada maupun Pemilu tidak lagi relevan. Seyogyanya kita tidak melayangkan serangan terhadap Gubernur DKI ataupun Presiden RI, namun sama-sama memikirkan solusi terhadap permasalahan polusi udara ini. Gugatan warga negara yang dilayangkan terhadap pemerintah menurut saya adalah hal yang tepat untuk menaikkan kesadaran seluruh masyarakat tentang masalah ini. Namun, perlu dipastikan semua kritik ini tidak kembali menjadi perpecahan antara kedua kubu yang saling menyalahkan.

Kebijakan yang tepat sasaran di level pemerintahan provinsi maupun pemerintahan pusat harus cepat dikeluarkan, namun kita sama-sama perlu mengawasi bersama, apakah kebijakan tersebut tepat guna, apakah kadar polusi menurun? Keterbatasan sensor menjadi masalah lain yang perlu diatasi juga. Walaupun masalah utama adalah bagaimana kebijakan dapat cepat dilaksanakan untuk menekan polusi, masalah itu juga mengajak masalah lain, yaitu bagaimana kita dapat mengukur kemajuan yang dihasilkan oleh kebijakan tersebut? Menurut saya, untuk mengatasi masalah ini, pemantauan yang lebih detil perlu dilakukan.

Di era di mana semua kebijakan harus berdasarkan data, maka perlu juga kita memiliki data yang komprehensif tentang polusi udara. AirVisual menunjukkan kepada kita bahwa dengan kumpulan data (big data) dapat dilakukan analisis yang dapat memperbaiki kualitas pembacaan dari sensor rendah biaya. Selain itu, ada inisiatif Luftdaten.info, oleh OK Lab Stuttgart, Jerman, mereka mengumpulkan data PM untuk menjawab pertanyaan tentang polusi udara di daerah mereka. Inisiatif ini menarik dan sudah ada satu orang Jakarta yang memasang satu sensor dan mengirimkannya ke Luftdaten.info.

(Buka website: https://maps.luftdaten.info)

Solusi Penunjang Kebijakan

Penggunaan sensor biaya rendah yang masif dan data yang kontinu menjadi paradigma baru dalam pemantauan kualitas udara, sudah saatnya Indonesia yang sedang mengalami permasalah polusi udara ikut masuk dalam pengembangan baru. Pengembangan ini tentu perlu didukung oleh hukum yang sesuai, yakni indeks kualitas udara yang modern yang mulai mengikuti standar PM2.5 dan bukan PM10 saja. Selain itu, implementasi jaringan sensor rendah biaya dengan data kontinu juga perlu mulai dipasang di daerah urban. Paradigma baru ini sudah dibahas oleh salah satu makalah ilmiah yang sudah disitasi ratusan orang.

(Baca paper: https://pubs.acs.org/doi/10.1021/es4022602)

Menunggu pemerintah untuk melaksanakan hal ini, mungkin butuh waktu yang lama dengan birokrasi yang berkepanjangan. Data tentang polusi udara sangat kita butuhkan, dan kita butuhkan segera. Terinspirasi dari Luftdaten.info, rasanya Indonesia juga bisa membuat sistem serupa dengan berbagai solusi yang sudah tersedia di bidang Teknologi dan Elektronika. Jika kemarin kita sudah dapat berurun daya untuk mengurusi Pemilu dengan KawalPemilu, rasanya untuk hal genting seperti kesehatan masyarakat seperti ini, bukan tidak mungkin adanya urun daya serupa.

Akhirnya, artikel ini merupakan manifesto yang saya buat untuk mengajak kita bersama untuk urun daya dalam memecahkan permasalahan ini. Memang kebijakan pemerintah tetap solusi yang paling diperlukan untuk mengurangi polusi udara, namun kita tidak hanya bisa teriak-teriak saja, perlu juga adanya usaha dari masyarakat. Usaha masyarakt dapat dilaksanakan dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, namun selain itu dapat berupa fungsi pemantauan seperti yang sudah di bahas. Layaknya KawalPemilu yang ingin memantau Pemilu 2019, mari kita memantau polusi udara kota kita, Jakarta. Saya akan memulai dengan mengembangkan hardware dan sistem sederhana di waktu luang saya. Semua program akan saya pasang di GitHub saya. Progres harian akan saya tulis di blog ini.

Avalanche: Penggiringan Opini dan Hitung Cepat

Pada tahun pemilihan umum 2019, sejarah Indonesia terukir, partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum melebihi ekspektasi dari penyelenggara pemilihan umum. Di tengah maraknya partisipasi masyarakat, ada hal negatif yang sangat memengaruhi masyarakat, yaitu terjadinya konflik horizontal akibat polarisasi pilihan politik. Polarisasi ini tidak kunjung usai, sejak pemungutan suara sudah dilakukan, bahkan sesudah diumumkan pemenangnya. Gerakan kampanye yang diserukan sejak tahun lalu, bahkan sampai sekarang, ibarat tidak ada hentinya. Banyak masalah politik yang muncul selama kontestasi pemilu 2019 ini. Masih disayangkan bahwa banyak sekali penggiringan opini yang dilakukan oleh elit dari kedua belah pihak dan adu kekuatan maupun kelantangan dari pendukung dua pihak. Penggiringan opini dari elit dan kekuatan pendukung menjadi sebuah akseleran yang sangat baik untuk memperparah terjadinya konflik horizontal.

Konflik horizontal ini berujung pada kekerasan yang menimbulkan korban jiwa sebanyak 6 orang, namun minim pemberitaan terhadap hal ini. Aktifitas warga sekitar maupun gedung perkantoran sekitar Bawaslu menjadi terhenti selama konflik terjadi. Aksi damai pada saat matahari tenggelam berubah menjadi aksi yang disusupi banyak perusuh. Apresiasi perlu diberikan kepada bapak Prabowo Subianto yang mengajak pendukung yang masih mau mendengarkan beliau untuk mengalah dan menghindari kontak fisik. Di saat yang berbeda, dalam acara Mata Najwa, elit politik bergandengan tangan dan menyerukan damai. Kita dapat bersyukur bahwa adanya inisiatif yang baik yang dapat meredamkan suasana perpolitikan Indonesia. Namun, kita tidak boleh memungkiri adanya struggle of power antara elit kedua kubu yang membantu menyulut konflik ini.

Penolakan Hitung Cepat

Hitung Cepat adalah salah satu metodologi estimasi hasil pemungutan suara yang dilakukan berdasarkan pengambilan sampel acak sesuai dengan kaidah statistika. Selama sepuluh tahun dilaksanakannya hitung cepat oleh beberapa lembaga survey, terbukti bahwa Hitung Cepat dapat menghasilkan estimasi yang cukup akurat. Namun tahun ini, pada tahun 2019, elit politik di salah satu kubu rupanya sepakat untuk menolak hasil Hitung Cepat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei yang memenangkan lawan politiknya. Kalimat-kalimat dari elit inipun berujung pada agitasi di kalangan simpatisan mereka, alhasil lontaran hinaan maupun serangan personal dilayangkan kepada bos lembaga-lembaga survei. Hitung Cepat yang dibuat untuk menjaga suara rakyat dengan mendapatkan data primer langsung dari tempat pencoblosan dan mencegah adanya upaya perubahan suara rakyat, menjadi kambing hitam dari penggiringan opini.

“Hitung Cepat adalah penggiringan opini. Juragan survei adalah tukang bohong.” Inilah yang dipercaya oleh pendukung salah satu kubu. Kedua kubu percaya bahwa adanya hasil dari Hitung Cepat dapat menjadi dasar deklarasi kemenangan dari salah satu kubu. Sebuah cuplikan pembicaraan antara TGB dengan Yusuf Martak menunjukkan bahwa adanya desakan deklarasi kemenangan oleh Joko Widodo setelah Hitung Cepat sudah menunjukkan kemenangan beliau. Yusuf Martak menjelaskan bahwa kabar deklarasi Joko Widodo membuat kubu Prabowo segera melaksanakan deklarasi. Yusuf Martak juga menyatakan bahwa jika ada deklarasi kemenangan dari kubu Joko Widodo, maka akan terjadi pembentukan opini bahwa kubu Prabowo sudah kalah. Terlihat bahwa kedua kubu tahu persis apa implikasi dari hasil Hitung Cepat dan bagaimana deklarasi pemenangan terhadap mental para pendukungnya.

https://tirto.id/jubir-bpn-bachtiar-nasir-sebut-quick-count-adalah-sihir-sains-dm3n

Sihir Sains, itulah istilah yang disebutkan oleh salah satu anggota BPN, Bachtiar Nasir. Ini adalah salah satu contoh serangan terhadap lembaga Hitung Cepat. Serangan ini rupanya efektif untuk membuat masyarakat simpatisan kubu Prabowo untuk tidak percaya dengan Hitung Cepat. Padahal, Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) telah membuka data masing-masing lembaga survei dan metodologi hitung cepatnya di depan publik. Data metodologi dan rumusan yang terbuka, di tambah oleh data terbuka dari KPU maupun dari inisatif KawalPemilu, siapapun dapat menghitung dan menarik kesimpulan berdasarkan hitungan yang dilakukan.

Darurat Matematika

Rakyat Indonesia sudah pintar, kata yang digaungkan oleh elit politik. Memang rakyat Indonesia sudah dapat mencari informasi sendiri, dan mampu berargumen berdasarkan informasi yang ditemukan. Namun, hal ini tidak dapat ditemukan saat Hitung Cepat dipertanyakan. Opini yang beredar di masyarakatpun terpecah dua, satu mempercayai Hitung Cepat dan satu menolak dengan keras Hitung Cepat dan menuduh lembaga survei sebagai tukang bohong. Kedua pandangan berseberangan ini adalah produk dari informasi yang tersedia di media sosial, yang disuplai oleh elit-elit politik pada masing-masing kubu tersebut. Namun, hanya sedikit masyarakat yang melihat laporan dari lembaga survei yang membuka dengan terang-benderang masalah metodologi hitung cepat.

\displaystyle \hat{p} = \frac{\displaystyle \sum_{h=1}^{H} \sum_{i=1}^{n_h} \frac{N_h}{n_h}y_{hi}}{\displaystyle \sum_{h=1}^{H} \sum_{i=1}^{n_h} \frac{N_h}{n_h}x_{hi}}

\displaystyle moe = 2 \times \sqrt{\frac{1}{\hat{X}^2} \sum_{h=1}^{H}\frac{N_h(N_h-n_h)}{n_h}\hat{var}_h} \times C

Persamaan di atas adalah persamaan yang dipakai dalam menghitung estimasi perolehan suara berdasarkan hitung cepat dan persentase akurasinya. Lembaga Hitung Cepat membuka juga tabel ringkasan pengambilan data yang dilakukan di 34 provinsi. Namun satu hal yang belum dilaporkan oleh lembaga survey, sumber pendanaannya. Di tengah ketidakpercayaan Hitung Cepat, muncullah seorang tokoh akademisi yang menantang juragan lembaga survey. Sebelumnya, hanya tokoh-tokoh nonakademisi yang melontarkan ketidakpuasan terhadap lembaga survei. Dr. Ronnie Rusli, dosen Universitas Indonesia melayangkan argumen berdasarkan pengambilan jumlah sampel untuk Hitung Cepat.

Dr. Ronnie Rusli membawa argumen kontra-Hitung Cepat melalui rumusan yang ditulisnya di Twitter. Belakangan ini saya baru sadar melihat video paparan Dr. Ronnie di depan Bawaslu, ternyata rumus yang salah ini juga yang menjadi acuan testimoni beliau di depan Bawaslu. Saya telah menulis tentang kesalahan persamaan yang dipaparkan di Twitter (baca: Deciphering the Tweet: Kesalahan Rumus dan Syarat Quick Count). Kesalahan ini rupanya tidak hanya luput dari ribuan masyarakat yang mencuit ulang persamaan ini, tetapi juga tidak disadari oleh mereka yang berperkara di hadapan Bawaslu. Ironis, masyarakat Indonesia yang sudah menerima pelajaran statistika sejak SMP, maupun aljabar sejak SMP, tidak dapat menyadari kesalahan rumus yang sangat mendasar yang berulang kembali dilakukan oleh Dr. Ronnie, bahkan di depan Bawaslu (lihat juga: Statistika 101: Ukuran Sampel untuk Data Proporsi). Kebenaran matematik dapat disepelekan demi kepentingan politik, Indonesia ada dalam darurat matematika.

Margin of Error disampaikan 0.02% sementara seharusnya dapat digunakan rumus ini:

\displaystyle MoE = \bigg(\frac{50\%}{\sqrt{n}}\bigg) 2.58

Substansi Ketidakpercayaan Kepada Hitung Cepat

Skeptisme terhadap Hitung Cepat bukannya tidak berdasar, berdasarkan teori statistika menggunakan Central Limit Theorem, seperti yang disampaikan oleh Dr. Ronnie, untuk mendapatkan sampel acak yang mencapai tingkat kesalahan tertentu, dapat digunakan rumus:

\displaystyle MoE = \frac{S_{\hat{p}}}{\sqrt{n}}Z_{99\%}

Rumus ini jika dimasukkan dengan nilai yang tepat akan menghasilkan 16ribu TPS untuk menghasilkan tingkat kesalahan 1 persen. Terlihat dari laporan lembaga survey, sepertinya pemilihan jumlah sampel tidak berdasarkan rumus di atas namun berdasarkan pengalaman Hitung Cepat sebelumnya. Untuk membuktikan kesahihan jumlah sampel lembaga survey dapat digunakan pendekatan empiris untuk mengambil kesimpulan.

Untuk menguji jumlah pengambilan sampel 2000 sampel, saya membuat program Stratified Random Sampling berdasarkan data dari KawalPemilu, persamaan estimasi proporsi dan variance berdasarkan laporan dari SMRC. Data mentah hasil sampel acak yang saya buat dapat dilihat pada GitHub, program tersedia pada GitHub kawal-pemilu-data. Program ini adalah usaha perbaikkan dari Penulis setelah masukan dari @RajaGuguk14. Sudah terdapat data mentah dari masing-masing TPS yang dapat dicek-ulang dan dibandingkan dengan berbagai sumber, tautan ke KawalPemilu juga diberikan. Berikut adalah tabel dengan jumlah sampel 2000.

01 SAMPLE 02 SAMPLE 01 KPU 02 KPU MOE (99%) PerbedaanSuara
55,36% 44,64% 55,50% 44,50% 1,20% -0,14%
54,88% 45,12% 55,50% 44,50% 1,34% -0,62%
54,86% 45,14% 55,50% 44,50% 1,40% -0,64%
55,01% 44,99% 55,50% 44,50% 1,43% -0,49%
54,86% 45,14% 55,50% 44,50% 1,45% -0,64%
54,87% 45,13% 55,50% 44,50% 1,47% -0,63%
54,98% 45,02% 55,50% 44,50% 1,48% -0,52%
55,12% 44,88% 55,50% 44,50% 1,48% -0,38%
55,23% 44,77% 55,50% 44,50% 1,49% -0,27%
55,23% 44,77% 55,50% 44,50% 1,49% -0,27%

Hasil ini tentu tidak sesuai dengan persamaan margin of error sebelumnya, di mana untuk mencapai tingkat kesalahan sebesar 1% dibutuhkan setidaknya 16000 TPS sampel. Seperti program saya sebelumnya, saya juga memasukkan sampel 1000 TPS dan menghasilkan tabulasi berdasarkan masukkan dari Dr. @saiful_mujani

01 SAMPLE 02 SAMPLE 01 KPU 02 KPU MOE (99%) Perbedaan Suara
54,68% 45,32% 55,50% 44,50% 1,80% -0,82%
54,52% 45,48% 55,50% 44,50% 1,89% -0,98%
54,64% 45,36% 55,50% 44,50% 1,97% -0,86%
54,79% 45,21% 55,50% 44,50% 2,02% -0,71%
54,74% 45,26% 55,50% 44,50% 2,05% -0,76%
54,83% 45,17% 55,50% 44,50% 2,07% -0,67%
54,95% 45,05% 55,50% 44,50% 2,08% -0,55%
55,16% 44,84% 55,50% 44,50% 2,09% -0,34%
55,25% 44,75% 55,50% 44,50% 2,10% -0,25%
55,24% 44,76% 55,50% 44,50% 2,11% -0,26%

Program ini belum sempurna dan masih ada kemungkinan kesalahan, namun bukti empiris berdasarkan hitungan dan dikonfirmasi oleh pengumuman KPU juga bahwa metodologi Hitung Cepat dengan Stratified Random Sampling dapat memprediksi hasil pemungutan suara dengan cukup akurat.

Kesimpulan

Kisruh berdasarkan Hitung Cepat ini seharusnya tidak perlu dibakar atau dijadikan bahan penggiringan opini dari kedua kubu. Deklarasi kemenangan berdasarkan Hitung Cepat maupun ketidakpercayaan penuh terhadap Hitung Cepat sangat rentan menghasilkan konflik horizontal. Di tengah kristalisasi, akademisi Dr. Ronnie Rusli menunjukkan rumus pengambilan sampel yang keliru, bahkan perhitungan margin of error yang keliru itu juga disebutkan di hadapan sidang Bawaslu (menit 10:35 – 11:12). Seharusnya seorang akademisi mampu memberikan informasi yang mencerahkan berdasarkan ilmunya. Berdasarkan uji coba simulasi Hitung Cepat dengan Stratified Random Sampling untuk menguji argumen Dr. Ronnie Rusli, hasil menunjukkan bahwa jumlah sampel sebesar 2000 TPS ataupun 1000 TPS sudah dapat mengestimasi hasil pemungutan suara dengan cukup akurat.