Kalibrasi Fire Weather Index di Indonesia

Lahan gambut memiliki kemampuan untuk menyimpan banyak karbon, di Indonesia. Lahan gambut tropis sangat berpengaruh terhadap kadar karbon di atmosfer global, ketika terjadi kebakaran hutan, dampaknya sangat buruk terhadap emisi karbon dioksida dan kabut yang dihasilkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Kebakaran hutan di lahan gambut jarang terjadi secara alami, namun pada kondisi gambut yang kering, mudah terjadi kebakaran. Kabut asap di Indonesia sering sekali terjadi dengan siklus El Nino, kurangnya curah hujan memperburuk musim kemarau pada bulan Mei – September.

Sistem peringkat bahaya kebakaran dapat memberikan informasi pencegahan kebakaran, mobilisasi dan aktivitas pemadaman. Kebakaran hutan dan kabut asap yang terjadi pada tahun 1997-98 menyebabkan perlunya ada peringatan dini melalui adanya sistem peringkat bahaya kebakaran (FDRS). FDRS dapat memberikan informasi dini untuk aktivitas manajemen kebakaran untuk mengurangi perluasan api dan mengurangi dampak kebakaran hutan. Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan Canadian Forest Fire Service mengembangkan Fire Danger Rating System (FDRS) yang sekarang sudah operasional di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Sistem Peringkat Kebakaran Hutan atau Indonesian Fire Danger Rating System menggunakan indeks yang disediakan oleh Canadian Forest Fire Weather Index System (CFFWIS), melalui tiga kode yang menunjukkan kadar kelembaban bahan bakar dan tiga indeks yang menunjukkan sifat api relatif. Untuk menyesuaikan dengan iklim, ketersediaan bahan bakar, dan jenis kebakaran di Indonesia, kalibrasi CFFWIS dilakukan agar representatif dengan kondisi cuaca Indonesia.

Permulaan kejadian kebakaran di suatu waktu sangat terpengaruh oleh kekeringan bahan bakar dan adanya sumber nyala api. Kekeringan relatif dari sampah-sampah berukuran kecil pada sistem CFFWIS didefinisikan sebagai Fine Fuel Moisture Code (FFMC). FFMC dapat digunakan sebagai indikator kemudahan nyala api, kalibrasi FFMC di Indonesia dilakukan melalui pendekatan langsung dan tak langsung, yaitu menggunakan uji pembakaran pada kondisi cuaca yang berbeda dan kajian historis terhadap kejadian kebakaran hutan.

Kabut asap seringkali disebabkan oleh kebakaran lahan gambut. Kebakaran lahan gambut diperkirakan menghasilkan 94% dari keseluruhan emisi PM10 pada saat bencana kabut asap 1997. Kekeringan pada lapisan organik dalam seperti gambut dapat mengindikasikan potensi kebakaran lahan gambut. Pada sistem CFFWIS, Drought Code (DC) dapat dipakai sebagai indikator kekeringan lahan gambut sehingga menjadi indikator potensi terjadinya emisi skala besar. Kalibrasi dari DC dilakukan dengan membandingkan data visibilitas di bandar udara dengan nilai DC.

Komponen Fire Weather Index (FWI) pada CFFWIS dikalibrasikan berdasarkan beban kebakaran. Beban kebakaran didefinisikan sebagai jumlah dan kekuatan dari semua api yang membutuhkan aksi pemadaman pada suatu waktu di area tertentu. Untuk kasus kebakaran akibat rerumputan, Initial Spread Index (ISI) dapat digunakan sebagai estimasi intensitas kebakaran. Komponen ISI pada CFFWIS dikalibrasikan berdasarkan kesulitan pengendalian kebakaran lahan rumput menggunakan Fire Behaviour Prediction dan parameter bahan bakar standar untuk daerah Asia Tenggara.

Duff Moisture Code (DMC) dan Drought Code (DC) juga dikalibrasi untuk daerah khatulistiwa dengan mengatur waktu siang hari (dalam jam) dan faktor pengeringan yang dipakai pada persamaan DMC dan DC. Hasil kalibrasi dari Indonesian Fire Danger Rating System sekarang dipakai untuk komputasi operasional oleh BMKG menggunakan data-data dari jaringan stasiun cuaca BMKG.

KlasifikasiFFMCDMCDCBUIISIFWI
Rendah< 72< 4< 140< 6< 1< 1
Sedang73 – 775 – 14140 – 2607 – 192 – 31 – 6
Tinggi78 – 8215 – 29260 – 35020 – 334 – 56 – 13
Ekstrim> 82> 29> 350> 33> 5> 13
Tabel 1. Hasil kalibrasi Indonesian Fire Weather Index

Sumber

  1. de Groot, W.J., R.D. Field, M.A. Brady, O. Roswintiarti, and M. Mohamad. Development of the Indonesian and Malaysian Fire Danger Rating Systems. Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change, 12, 165-180, 2007. [PDF]
  2. Dymond, C.C., R.D. Field, O. Roswintiarti, and Guswanto. Calibrating components of a fire management system using satellite fire detection. Environmental Management, 35, 426-440, 2005. [PDF]
  3. Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan | BMKG

Diterbitkan oleh josefmtd

Electronics Engineer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: