Blog Post

Mencegah Banjir Jakarta: Teknologi Modifikasi Cuaca

Tahun Baru 2020, hari pertama diisi oleh kemalangan luar biasa, hujan deras melanda daerah Jabodetabek. Hujan deras ini menemani ramainya orang yang merayakan tahun baru, tahun berganti namun hujan ini tetap tidak berhenti. Alhasil, terjadilah banjir terparah di daerah Jabodetabek. Banjir ini memakan banyak korban jiwa, belum lagi kerugian materiil yang dialami berbagai pihak. Banyak kesedihan, banyak kemarahan, banyak kekecewaan, terhadap pemerintah, orang lain, dan diri sendiri. Kegaduhan terjadi karena sebab terjadinya banjir masih diperdebatkan, instansi pemerintahan terkait saling lempar tanggung jawab. Artikel kali ini bukan ingin menunjuk siapa yang salah, namun ingin menunjukkan adanya solusi.

Kerjasama Instansi Pemerintah

https://katadata.co.id/berita/2020/01/03/cegah-banjir-jakarta-bppt-modifikasi-cuaca-untuk-pangkas-hujan

Beberapa instansi pemerintah yang terkait dengan bencana air, mulai dari BMKG dan BNPB bekerjasama dengan BPPT yang memiliki teknologi modifikasi cuaca. Menggunakan armada pesawat dari TNI, terdapat sinergi antara 4 lembaga ini yang masing-masing perannya sebagai berikut:

  1. BMKG: pemantau awan penghujan
  2. BNPB: penanggulangan banjir
  3. BPPT: teknologi modifikasi cuaca
  4. TNI: armada pesawat dan awak untuk operasi modifikasi cuaca

Keempat lembaga ini masing-masing memiliki peran dan andil yang penting dalam operasi modifikasi cuaca. Namun, artikel ini akan lebih membahas teknologinya sehingga BPPT menjadi highlight utama dari artikel ini.

Teknologi Modifikasi Cuaca

Teknologi Modifikasi Cuaca adalah salah satu teknologi yang dimiliki oleh BPPT. Operasi modifikasi cuaca dimulai atas gagasan Presiden Soeharto, difasilitasi oleh Prof. BJ Habibie dengan bantuan dari Prof. Devakul dari Thailand. Sekarang, operasi modifikasi cuaca ada di bawah Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC). Secara singkat, operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk menghasilkan hujan buatan di suatu lokasi. Penerapan teknologi ini dapat dilakukan untuk mengurangi ataupun menambah curah hujan.

Berdasarkan artikel paper prosiding yang ditulis oleh tim BBTMC (lihat: prosiding BBTMC yang tersedia di web WMO), saya akan menjelaskan dengan singkat apa itu Teknologi Modifikasi Cuaca. Artikel paper ini membahas studi kasus pada dunia pertambangan, di mana modifikasi cuaca yang dilakukan adalah untuk mengurangi curah hujan, kasus yang sama dengan Jakarta sekarang.

Modifikasi cuaca pengurangan hujan yang dilakukan BPPT adalah berbasis benih higroskopis (hygroscopic seeding), atau pemberian garam kepada awan. Pemberian garam kepada awan untuk mengurangi hujan dapat dilakukan dengan dua metode, mekanisme jumping process dan mekanisme competition.

Mekanisme jumping process adalah mekanisme di mana awan penghujan yang berpotensi memberikan curah hujan tinggi dicegat sebelum sampai ke daratan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pesawat, menjatuhkan partikel garam seukuran 10 – 100μm. Partikel garam ini akan membuat hujan terjadi secepatnya, sehingga hujan terjadi di laut.

Mekanisme competition adalah mekanisme di mana awan yang mulai terbentuk di daratan diganggu partikelnya dengan menambahkan partikel garam yang lebih kecil. Partikel garam yang kecil ini “berkompetisi” dengan partikel air yang ada di awan, menyebabkan awan masuk ke kondisi yang stabil, sehingga menurunkan potensi hujan.

Kedua mekanisme ini dilakukan oleh BPPT untuk mengurangi hujan, dengan pesawat untuk melakukan mekanisme jumping process di lautan, dan dengan ground based generator untuk mekanisme competition di daratan. BPPT telah berhasil mengurangi curah hujan hingga 40% menurut Kepala BPPT Hammam Riza (baca: https://www.liputan6.com/news/read/4150878/turunkan-intensitas-hujan-jabodetabek-ini-fakta-seputar-teknologi-modifikasi-cuaca-bppt)

Kesimpulan

Teknologi Modifikasi Cuaca berfungsi dengan baik untuk menanggulangi peluang terjadinya banjir susulan di tengah ekstremnya cuaca di awal musim penghujan tahun 2020. Untuk mencegah adanya banjir ekstrem di awal musim penghujan, tetap diperlukan manajemen air yang baik untuk mencegah, sebelum menanggulangi banjir.

Carrier Resolved Photo-Hall Effect: Penemuan Baru Dikepalai Ilmuwan Indonesia

“Kalau bisa masuk artikel di Nature, itu sudah keren banget”, kalimat itu sering dilontarkan oleh salah satu pengajar Pengantar Nanoelektronik di Universitas Indonesia. Kali ini, ada berita yang bisa membuat orang Indonesia turut berasa bangga. Tim peneliti IBM, dikepalai oleh Oki Gunawan, PhD, menemukan fenomena fisika baru, fenomena ini dinamakan Carrier Resolved Photo-Hall Effect. Artikel inipun sudah di terima oleh Nature dan sudah dapat dibaca oleh semua orang. Ini bukan sesuatu yang mudah, perjalanan panjang sudah dilalui oleh bapak Oki Gunawan dan tim, terdapat beberapa pemberitaan dari media online Kompas, sayang sekali jurnalis media tersebut hanya melakukan transliterasi dari sebuah artikel dari media online bahasa Inggris lain sehingga banyak hal  yang hilang dalam terjemahan (baca: https://sains.kompas.com/read/2019/10/24/070300523/tim-fisikawan-indonesia-ungkap-rahasia-140-tahun-dalam-elektronika?page=all).

Artikel blog ini saya tulis karena mengingat perkataan dosen saya waktu kuliah, takjub atas tembusnya artikel ini di Nature. Melihat isinya pun, saya melihat banyak sekali aplikasi di bidang semikonduktor yang dapat terbantu oleh penemuan ini. Melihat bahwa penulis utama dan peneliti utama dari tim IBM ini adalah seorang ilmuwan asal Indonesia memberikan rasa kebanggaan dan motivasi, saya harap teman-teman yang membaca artikel ini bisa ikut termotivasi dengan pencapaian ini.

Sistem Baris Dipol Sejajar (Parallel Dipole Line System)

Seperti yang sering terjadi di dunia Fisika dan sains pada umumnya, penemuan ini dibantu oleh ditemukannya penemuan lain. Pada tahun 2015, tim IBM ini menemukan efek medan magnetik baru, diberi nama efek punuk unta (camelback effect). Efek ini merupakan bagian penting dari penemuan jebakan magnetik baru, yang disebut jebakan magnetik baris dipol sejajar (parallel dipole line). Jebakan magnet ini dapat dikembangkan untuk aplikasi sensor, seperti seismometer atau tiltmeter. Namun saat elemen jebakan magnet ini diputar, dapat menghasilkan osilasi medan magnet murni (sinusoidal), yang searah dan kuat.

camelback
Gambar 1. Efek punuk unta dan sistem baris dipol sejajar

Melihat Detil Pembawa Muatan dengan Efek Foto-Hall

carrier-resolved-photo-all
Gambar 2. Perkembangan dari Hukum Ohm (1827), Efek Hall (1879) hingga Carrier Resolved Photo-Hall Effect (2019)

Selama ini terdapat dua cara untuk mengetahui pergerakan muatan dalam sebuah bahan konduktor/semikonduktor. Hukum Ohm dan Efek Hall adalah kedua cara yang paling umum. Hukum Ohm tidak asing lagi, walaupun kita biasa mengenalnya dengan (V = IR), namun bisa juga kita tuliskan sebagai J = \sigma . E. Dimana jika ada bahan semikonduktor/konduktor yang kita berikan medan listrik tertentu, kita dapat mengukur densitas arusnya, untuk mendapatkan konduktivitas dari bahan tersebut. Dengan Efek Hall , kita dapat menambahkan medan magnet yang menyebabkan adanya gaya Lorentz pada pembawa muatan tersebut sehingga kita dapat mengetahui pergerakan pembawa muatan mayoritas di bahan semikonduktor tersebut. Penemuan baru oleh tim IBM ini menambahkan foton, sebuah eksitasi selain medan listrik dan medan magnet, untuk mendapatkan informasi lebih detil tentang muatan tersebut.

Carrier Resolved Photo-Hall Effect (CRPH) menggunakan osilasi medan magnet (dari perputaran PDL) dan penambahan cahaya atau foton (photon). Seperti yang kita ketahui, jika foton mengenai sebuah bahan semikonduktor, akan menghasilkan sepasang elektron dan lubang (hole). Kedua pembawa muatan (mayoritas dan minoritas), yaitu hole dan elektron masing-masing membuat nilai konduktivitas (\sigma) dan koefisien Hall (H) berubah sesuai dengan jumlah foton yang diterima. Dengan memetakan nilai konduktivitas dan koefisien Hall sebagai fungsi terhadap intensitas cahaya (foton), ditemukan hubungan antara konduktivitas dan koefisien Hall. Informasi yang terkubur dari relasi ini adalah perbedaan mobilitas dari kedua pembawa muatan, yang dapat dijabarkan dengan rumus: \Delta\mu = \frac{d\sigma^2H}{d\sigma}

Dengan efek Hall klasik, kita dapat menemukan densitas pembawa muatan mayoritas dan mobilitasnya, dengan perbedaan mobilitas yang ditemukan oleh pengukuran menggunakan CRPH, tim ini dapat menemukan nilai densitas pemabawa muatan minoritas dan juga mobilitasnya. Selain dari penemuan teori ini, tim IBM melaporkan penggunaan osilasi medan magnet dan metode penguncian frekuensi dan fasa yang dapat menghilangkan frekuensi lain yang hanya berupa derau (noise) dengan deteksi menggunakan lock-in. Selain mobilitas muatan, parameter lain yang dapat ditemukan adalah masa hidup pembawa muatan (carrier lifetime) dan panjang difusi (diffusion length) dari masing-masing pembawa muatan. Hal ini dilakukan dengan mengambil data sebanyak N kali untuk masing-masing jumlah intesitas cahaya yang berbeda.

Kenapa Penemuan ini Penting?

Semua perangkat elektronik yang kita pakai ini adalah hasil dari perjalanan panjang perkembangan teknologi semikonduktor. Semikonduktor adalah bahan yang dapat diatur konduktivitasnya. Bahan ini adalah bahan terpenting dalam semua perangkat elektronik. Untuk mengetahui lebih lanjut fenomena fisika yang terjadi di sebuah bahan semikonduktor, diperlukan beberapa pengukuran parameter-parameter pembawa muatan listrik (charge carrier), mulai dari mobilitas, densitas pembawa muatan, masa hidup rekombinasi pembawa muatan minoritas, dan panjang difusi pembawa muatan ini. Dengan mempunyai metode untuk mendapatkan informasi-informasi ini, karakteristik fisik dari bahan-bahan semikonduktor generasi baru dapat diketahui dengan detil. Bahan semikonduktor baru dapat memberikan jalan bagi perangkat-perangkat elektronik yang lebih baik, mulai dari sel surya, devais optoelektronik lainnya, bahkan untuk pengembangan devais-devais terbaru lainnya.

Akhir kata, penemuan ini memberi pembaharuan dari fenomena elektromagnetik yang berumur 140 tahun, perjalanan panjang dari fenomena Hukum Ohm yang hampir 200 tahun. Saya berharap dengan tulisan ini, teman-teman yang sedang belajar dan ingin mendalami dunia elektronika dapat termotivasi, Terutama untuk junior-junior di Universitas Indonesia yang lanjut mengerjakan Organic Light Emitting Diode maupun Perovskite Solar Cell. Namun secara umum, tulisan ini saya harap juga dapat menjadi uplifting news bagi khalayak umum, bahwa peneliti asal Indonesia mampu menemukan fenomena Fisika yang dapat melanjutkan hukum Ohm dan efek Hall.

Idea: Sistem Presensi Otomatis berbasis WiFi

Saya sedang ada latihan paduan suara di gereja, tiba-tiba saya mendapatkan ide menarik untuk mendata presensi anggota secara otomatis. Ketua paduan suara sempat menyuarakan kebutuhan akan absensi untuk tahu mana saja anggota yang aktif dan tidak. Saya sempat memutar otak, bagaimana cara membuat sistem yang otomatis untuk hal ini? Membuat sistem berbasis keycard? Ah, nanti banyak yang tidak bawa keycard. Bagaimana kalau pakai aplikasi dan komunikasi Bluetooth pakai HP? Waduh, saya yakin pasti belum tentu semuanya bisa diajak untuk pakai Bluetooth, apalagi dengan aplikasi rumit.

Belum lama ini saya berjibaku untuk memasang Raspberry Pi di jaringan WiFi hotel, sesuai pengalaman saya semua jaringan hotel menggunakan Mikrotik. Untuk login dengan Mikrotik dibutuhkan Javascript untuk melakukan hash dari password. Setelah berjibaku lama, saya menemukan script Python untuk melakukan hashing tersebut, sehingga koneksi ke Wi-Fi hotel menjadi mudah, saya cukup menjalankan script ini. Saya teringat bahwa WiFi di paroki juga menggunakan Mikrotik.

Barusan saat latihan, saya kembali terpikir ada dua fakta menarik, semua orang sudah tidak terlepas dengan mobile phone nya, it’s always in your person (or at least most of the time if you didn’t forget to bring it). Selain itu adalah, hampir semua orang mencari WiFi kalau ada opsi gratis. Berbasiskan dua fakta sederhana ini, saya tertarik membuat script sederhana untuk memantau siapa yang ada di jaringan tersebut untuk mengetahui siapa saja yang hadir.

Program nya sederhana, idenya adalah untuk bergabung dengan jaringan WiFi paroki, masuk melalui Mikrotik login, lalu melakukan ARP scan pada saat jam mulai latihan, mendata semua MAC address yang ada, lalu melakukan ARP scan kembali pada saat jam selesai latihan dan kembali mencatat semua MAC address.

Seems like a good scripting practice for my weekend 🙂

Garuda: Gawai Darurat Radio Amatir

Garuda, Gawai Darurat Radio Amatir adalah inisiatif hardware platform yang dibuat oleh Penulis untuk mengisi kekosongan komunikasi digital darurat pada situasi kebencanaan.

Pendahuluan

Bencana alam adalah alasan utama (raison d’être) dari sistem jaringan darurat berbasiskan radio amatir. Saat semua jaringan terputus, jaringan radio menjadi pilihan utama. Namun pada saat badai Harvey di Amerika Serikat, jaringan telepon ataupun internet sudah cukup stabil, yaitu 95% jaringan seluler tetap berfungsi, sehingga komunikasi dapat berjalan dengan normal, Facebook dan Twitter pun dapat diakses normal. Sistem komunikasi darurat sudah tidak lagi berguna di Amerika Serikat, namun di wilayah rawan bencana seperti di Indonesia, jaringan komunikasi seluler umumnya juga mati pada saat bencana.

Komunikasi taktis diperlukan untuk memetakan kondisi kebencanaan, usaha pencarian dan penyelamatan, maupun komunikasi singkat antar petugas. APRS adalah salah satu protokol komunikasi taktis untuk keperluan radio amatir. APRS dapat digunakan untuk mengirimkan pesan antar petugas maupun melaporkan kondisi lapangan dengan laporan berbasis objek. Selain untuk laporandan pengiriman pesan, APRS juga dapat memberikan penjejakan masing-masing petugas di saat situasi kebencanaan.

Automatic Packet Reporting System

Sebuah jaringan APRS lokal dapat terdiri dari berbagai stasiun radio APRS dan digipeater APRS. Digipeater umumnya dipasang pada ketinggian tertentu sehingga dapat mencapai area yang luas. Layaknya sebuah voice repeater, digipeater dapat memancarkan ulang transmisi dengan daya yang lebih besar sehingga dapat menjangkau area yang lebih luas.

Untuk membuat purwarupa jaringan APRS, diperlukan pemancar/penerima radio (transceiver) dan sebuah modem. Modem APRS ini dapat diprogram untuk terhubung dengan sebuah host computer atau mobile phone, atau standalone untuk difungsikan sebagai digipeater.

Pengembangan Purwarupa

Untuk purwarupa sistem ini, Penulis ingin menggunakan pemancar/penerima radio berbasis modulasi LoRa. Modulasi LoRa adalah salah satu modulasi modern berbasis spread spectrum yang memiliki sensitivitas yang tinggi. Untuk memastikan modul yang dipakai tidak mengalami degradasi performa RF, pengembangan purwarupa perlu memisahkan modul radio dengan modul APRS modem. Pengembangan modul transceiver dapat menggunakan modul LoRa yang sudah terdiri dari modul Power Amplifier dan RF switch dan konektor RF yang sesuai. Koneksi digital dari modul dapat dilakukan di PCB terpisah agar meminimalisir penjaluran PCB di modul radio. Modul RF perlu diberi perhatian khusus sehingga PCB yang dibuat untuk modul ini harus presisi, penggunaan PCB profesional sangat diperlukan dari tahap purwarupa awal.

Untuk pengembangan modul modem APRS dapat dilakukan diatas PCB berlubang (perfboard) karena hanya menggunakan sinyal digital. Purwarupa awal dari sistem dapat menggunakan development board Arduino untuk mengatur komunikasi dengan modul radio. Penggunaan development board Arduino ini dapat selanjutnya dikembangkan menjadi standalone Arduino dengan komponen pendukung dalam satu board yang diletakkan di atas modul radio untuk menjadikan purwarupa operasional.

Test
Gambar 1. Model tiga dimensi purwarupa pemancar/penerima radio LoRa

Progres perkembangan purwarupa dan segala pengembangan perangkat keras maupun perangkat lunak akan saya sampaikan di GitHub dan melalui blog post ini. Jika ada masukan, silahkan berikan komentar di artikel ini.

 

Flamingo+ FM

This article is written after I received my giveaway prize of LaNA, Flamingo+ FM, and HF Balun 1:9 from the amazing Nooelec!

Nooelec is a company that sells Software Defined Radio stuffs, their SMArt SDR seems to be the premium in RTL-SDR class. What I’m trying to review first is the Flamingo+ FM, since it’s the simplest out of them.

Notch Filter

Basically, the Flamingo is a FM notch filter, it does as expected, blocking out FM broadcast signal. FM broadcast in my hometown is quite full, occupying the whole frequency band plan for FM broadcast from 87MHz to 108MHz. This band has a center frequency of 97.5MHz, which is exactly where the Flamingo+ is designed for.

Figure 1. Flamingo+ FM, 7 order notch filter for FM broadcast

As the brochure said, Flamingo+ FM is a 7 order notch filter that is centered on 97MHz. This can easily be realized by passive LC filters, with 7 pairs of inductors and capacitors connected in series or parallel. There is two ways to implement this filter, using the Pi configuration or T-configuration. You can find more information on WA4DSY on how the band-stop filter is configured. LC notch filter is a passive device so it does not require any Bias-Tee to operate. Calculating the components for every inductor and capacitor for the filter is done by following the Chebyshev/Butterworth/Bessel polynomial functions.

notch-filter
Figure 2. 5th order notch T-filter

Using the Notch Filter

Using the Notch filter is simple, there is an input port and output port, technically, both of them can be used interchangeably, but the Flamingo+ FM design adds an ESD diode in the input to prevent voltage transients from the antenna. The antenna is connected to the Input port of Flamingo+ FM filter, then the output port is connected to the SDR directly via a SMA barrel. Getting the ports mixed up should be okay, but you will be losing the ESD protection on the antenna if you got them mixed up.

When to use this FM notch filter? This is dependent on the location of the SDR-based solution that we’re trying to deploy. This FM notch filter may be needed if there is a high powered FM-broadcast in close proximity with the SDR site.

If I had a NanoVNA, I would probably measure the S11 and S21 performance of the filter, since I have none, I might have to wait until I can get my hands on one of them.

In my next article, I would love to talk more about the performance of filter, but first, I forgot that the only Software Defined Radio I have in hand is the old MCX connector. I would have to wait for my order of NESDR SMArtee v2 to arrive. D’oh!

While I wait for the NESDR SMARtee v2 to arrive, I will be writing the plans for what I’m gonna do with the SMArtee, LaNA, and Flamingo+ FM.

Modul LoRa SX1268 untuk Amatir Radio

Frekuensi untuk amatir radio untuk pita 70 cm (UHF) adalah 430-440MHz. Di Indonesia, frekuensi 430 MHz sampai 431 MHz dapat dipakai untuk komunikasi data. Rentang frekuensi ini dapat dipakai untuk mengembangkan perangkat amatir radio berbasis radio UHF menggunakan modul LoRa. Semtech adalah perusahaan manufaktur yang membuat chip transceiver LoRa, tahun lalu Semtech mengeluarkan seri SX126x. Jika dibandingkan dengan seri SX127x, seri SX126x mempunyai performa RF yang lebih baik, dan support penggunaan TCXO.

Semtech memiliki referensi desain untuk SX1268, referensi ini dipakai oleh perusahaan manufaktur China seperti Dorji atau Ebyte untuk membuat modul berbasis SX1268. SX1268 memiliki tiga I/O digital, pada referensi ini dua I/O dipakai untuk rangkaian internal dalam modul, yaitu RF Switch dan TCXO supply yaitu DIO2 dan DIO3. Modul berbasis SX1268 ini hanya dapat memiliki 1 I/O untuk fungsi deteksi carrier yang diperlukan untuk implementasi CSMA.

semtech.PNG
Gambar 1. Rangkaian modul berbasis SX1268

SX1268 lebih baik dari sisi RF dibandingkan SX1278, sensitivitas yang lebih tinggi, deteksi carrier yang dapat mendeteksi keseluruhan dari transmisi LoRa dan kemampuan menggunakan TCXO (temperature compensated oscillator) yang dapat memperbaiki tingkat presisi dari frekuensi dari modul LoRa. Namun perubahan ini juga mengakibatkan berubahnya implementasi komunikasi SPI dengan modul SX1268 dibandingkan dengan modul SX1278, sehingga program untuk SX1278 tidak dapat dipakai untuk SX1268.  Setelah adanya pengembangan library SX1268 oleh Jan Gromes (http://github.com/jgromes/RadioLib), kelebihan modul SX1268 dapat diintegrasi dengan Arduino untuk membuat perangkat LoRa performa tinggi.

Langkah selanjutnya dari artikel ini adalah integrasi dengan Arduino Pro Mini atau standalone ATmega328P untuk pembaharuan desain LoRa APRS TNC.

NanoPi NEO Air dan Modul GSM

NanoPi NEO Air adalah sebuah single board computer alternatif selain Raspberry Pi. Ukurannya yang kecil membuat NanoPi NEO Air menjadi alternatif dari Raspberry Pi Zero W. SBC ini menggunakan prosesor Quad Core Allwinner H3 up to 1.2GHz, dengan RAM 512MB dan Storage eMMC 8GB. Kelebihan chip ini dibandingkan chip Raspberry Pi Zero W adalah banyaknya hardware UART (3 buah, 1 untuk debug), Quad Core dibandingkan Single Core untuk Raspberry Pi Zero W.

Modul GSM yang dipakai untuk percobaan kali ini adalah modem A6 dari AiThinker. Modul yang saya pakai menggunakan port micro USB untuk menyuplai daya ke modul. Untuk menghubungkan modul dengan NanoPi NEO Air dibutuhkan tiga jumper antara UART1 (TX1, RX1) dan GND dengan U_RX, U_TX, dan GND.

Komunikasi internet dari modul GSM dengan NanoPi NEO Air menggunakan Point-to-Point Protocol (PPP). Untuk OS FriendlyCore dari NanoPi NEO Air, yang berbasis dari UbuntuCore, menggunakan packaging manager yang sama dengan Debian. Instalasi package PPP dapat dilakukan dengan menggunakan command:

# apt update
# apt install ppp

Setelah instalasi PPP, langkah selanjutnya adalah untuk mempersiapkan file konfigurasi untuk provider yang ingin kita pakai, contohnya untuk Telkomsel, buat file /etc/ppp/peers/telkomsel

# nano /etc/ppp/peers/telkomsel

Isilah file tersebut dengan konten di bawah ini:

# Koneksi ke APN Telkomsel
connect "/usr/sbin/chat -v -f /etc/chatscripts/gprs -T telkomsel"

# Device serial
/dev/ttyS1

# Kecepatan serial
115200

# Alamat IP diatur oleh ISP
noipdefault

# Gunakan PPP sebagai default route
defaultroute

# Menggunakan name server dari ISP
usepeerdns

# Daemon PPP akan otomatis menyala ulang jika ada error
persist

# Tanpa autentikasi dari remote
noauth

# Tanpa hardware control UART
nocrtscts

Jika file konfigurasi sudah disiapkan, koneksi menggunakan modul GSM dapat dimulai dengan menggunakan command:

# pon telkomsel

dan mematikannya bisa digunakan command:

# poff telkomsel

Untuk menyalakan internet pada saat booting NanoPi, ubah file konfigurasi network interface dengan menggunakan command:

# nano /etc/network/interfaces

Tambahkan konten ini di dalam file /etc/network/interfaces:

auto telkomsel
iface telkomsel inet ppp
    provider telkomsel

Toxic Masculinity in Media and Advertising

Toxic masculinity is a term commonly used by social activists to address the issues of masculinity, mainly credited to the Patriarchy. Toxic masculinity is such a partisan issue that most Conservative people do not really believe. The term toxic masculinity is not a new idea, it’s been engraved in our society for so long, pointing out toxic male behaviors have been common in the popular culture. Although, it recently gained more traction in midst of #MeToo movement.

Where did it come from originally? Toxic Masculinity was first used by psychologist Shepherd Bliss to separate negative traits of men from the positive ones. Bliss further defined that “avoidance of emotional expression”, “over-aspiration for physical, sexual, and intellectual dominance”, and the “systemic devaluation of women’s opinions, body, and sense of self.”

Several questionable behaviors of adult male, such as catcalling and other forms of sexual harassment is the leading cause of calling out the toxic masculinity. Surely, these problems and many others issued by the activists are very much real and happening right now, but what are the solutions?

This is where the media and advertising comes to play. Earlier this year we have been greeted by a Gillette ad campaign, “The Best a Man Can Be”. One can argue that this advertisement campaign is to pander for social activism cause, tackling the Toxic Masculinity. We can also argue that this campaign has failed terribly, receiving loads of backlashes. Recently, Gillette even loses $8 billion in valuation, conservative medias suggest that it’s due to the failing ad campaign, but more progressive medias highlight the decreasing consumer (caused by celebrities having beards) and more rival companies.

Toxic Masculinity is too commonly used to be taken seriously, although some of the negative traits are a real thing. Not enough discourse is taken to address this issue, the fact that the activists that like to use these terms see toxic masculinity in the perspective of the way it devalues woman makes it worse. As shown in the video, most of the solutions revolves around making men stop fighting, valuing women, stopping rough-housing plays, and stopping the use of “boys will be boys”. These ideas seem really good in paper, but this is not what an advertisement for a product should be telling us.

How the media addresses the Toxic Masculinity jargon isn’t much better at all. A few months back, Meryl Streep addresses the fact that “toxic masculinity” is not something that should be put together as two words, because women can be toxic, too. What raised my attention is that Meryl Streep also mentioned that “We hurt our boys by calling something toxic masculinity”. This is really important, and if I can compare this with the Gillette ads, where “boys will be boys” and young boys watching over-sexualized women in rapper songs are depicted, younger boys are the target of this issue. Young men recently have grown up believing the “toxic masculinity”, being fed with how most men, if not all are “toxic”. Heck, even here in Indonesia, we have this saying of: “all men are bastards, the ones that aren’t, they’re gay.”

(Conservative media reports; https://www.dailywire.com/news/47881/amen-meryl-streep-why-she-rejects-term-toxic-amanda-prestigiacomo)

(Progressive media reports: https://www.theguardian.com/world/2019/jun/01/seriously-meryl-streep-toxic-masculinity-doesnt-hurt-men-it-kills-them)

Young boys have been fed way too many of these guilt shame, they are starting to believe that the masculinity as mere violence. Condemning the toxic masculinity and abandoning the traditional masculinity. Obviously, one can argue that the traditional masculinity values are flawed, but if we keep attacking what it means to be a man without giving proper drive for these young boys. We will create nihilistic young men and these types of men are dangerous and can cause various issues since they can be manipulated to do various unimaginable things.

Let me present my case with a video example:

On this video, a young man asks about the concept of Toxic Masculinity being unfair to young men. It’s fairly evident that these types of conversation do not think of the boys, but always on how it will benefit young girls. This poor fella does not even have his proper answers. What is interesting to note is, is the proposed solution of creating an equal upbringing for young boys and girls. We surely know that men and women are different, we want different things in life, some might argue that this is due to societal pressure but others argue that it’s due to undeniable biological differences. Even in Sweden where we can see the closest to an egalitarian society in the world, the differences of university degree choice between men and women is fairly obvious.

We can’t hope to fix the male issues by focusing solely on the benefits for woman and keep beating the dead horse of how men are bad. Feminizing young men is not really a good long term solution, when we create weak men, we will be further dismayed by the effects of what bad men can do. This is where I argue that toxic masculinity portrayal in media and advertising is unfair towards young boys. Our young boys do not need more people telling us how bad it is to be a man and how they are guilty of the sins of older generations. We need to show them what it means to be a good and virtuous men, showing them the positive masculinity, how they can harness the masculine traits and use it for the good of society by adopting the necessary responsibilities.

These changes should not come from pressure from social activists. Definitely not from our men grooming products. The media isn’t really helping either, there’s only one way, through families, it should be the main priority to get the parents, both Mother and Father who equally have the big deciding factor for the kids growing up. These shall not be done in a negative manner demonstrated previously, but in a positive mark on how to make young boys adopt responsibilities and be courageous to standing up for the right things. Popular culture such as the superheroes franchise is one easy way of telling young boys how to act, how to be courageous, and how to adopt proper responsibilities. Not shaming these boys for crimes they have yet to commit by blasting these toxic masculinity and worsening the problems.

Disclaimer: This is not my typical content in this blog, but I feel a need to talk about this due to the recent development of the Gillette ad campaign and how it backfired.

Jesus on the Cross: Sacrifice is Not a Joke

As a Catholic, I am sad because of the resurfacing of an old video of a Q&A hosted by a famous Ustadz. It was not because of his answer, that is degrading the crucifix, specifically the Catholic crucifix. Catholics are the one who have Jesus on our Crucifixes, it is to remind us of the sacrifice He made on the cross, for everyone. It wasn’t because the fact that he spoke badly of the Crucifix in Catholic hospitals, the one that was built not only for Catholic patients, but for everyone.

It wasn’t all that, it was the laughter that ensues after the answer was given. Hearing the symbols of the greatest sacrifice being ridiculed is really sad. I was overwhelmed, who would have such an ill-intention of sharing these? The fact that the video was shared with a name of @KAJIANUSTADABDULSOMAD_ and was tagged with “follow and share” made it a bit worse. The Ustadz allegedly got reported to the police for the video, but the one sharing these video is the one that should be reported and facing the consequences. Because we did not have to hear that, sharing it only cause troubles and unneeded social problems.

Jesus has said in Matthew 5:38-42:

You have heard that it was said, ‘Eye for eye, and tooth for tooth. But I tell you, do not resist an evil person. If anyone slaps you on the right cheek, turn to them the other cheek also.And if anyone wants to sue you and take your shirt, hand over your coat as well. If anyone forces you to go one mile, go with them two miles. Give to the one who asks you, and do not turn away from the one who wants to borrow from you.

As a Catholic, we have always been taught not to struggle or resist any attacks that’s directed to us. Our pastors always have the same sentiment, it’s always due to what Jesus has said.

However, that’s not all, a backlash is coming, with a form of #KamiBersatuBersamaUAS trending topic and suddenly quotes like these are appearing:

“Follow the Ulama that’s hated by the infidels … ”

< A video of a Christian preacher spewing hate towards Muslim >

“This is probably common in their churches too”

“Why is everyone targeting our Ulama?”

This is heartbreaking, what have we done, as Catholics in Indonesia to receive this? Did we provoke you, dear brothers? We were slightly hurt by the Crucifix being degraded, but did you really have to put salt in our wounds? Our pastors do not rally us to do anything but to forgive. Yes, media reported that the Ustadz was reported, but turns out no reports have been given until today, said the NTT Police.

(https://www.viva.co.id/berita/nasional/1175413-ceramah-soal-salib-benarkah-ustaz-abdul-somad-dilaporkan-ke-polisi)

When I was a Protestant, I did hear some snide remarks from a preacher, but never once I heard a Catholic pastor speak in derogatory terms to our Muslim brothers. We do not hate, we do not insult you in our churches, we never spoke badly of your Ulamas. The Catholic institution, namely the Archdiocese of Jakarta has even been actively trying to promote our Unity in Diversity and Pancasila. We are trying to create a great relationship from within our church and to the society around us, we are not your enemy.

I ask my Catholic brothers to keep following the teaching of Jesus and the guidance from our pastors to not get offended by this. I hope no one will report the Ustadz, but rather I hope someone can find the one sharing the video and let a proper apology be uttered by that person.

I ask my Muslim brothers not to blow these up further, there’s no need to defend nor squabble. I understand that this is a teaching platform for you and it should be kept private.

I believe that to each one of us, our own religion, we should not be squabbling among ourselves, if we do, we’re only hurting ourselves, while people start to abandon religions at all, our common enemy is the same, those who want to paint all religious person as bad and ignorant, and let us not prove them right.

Rather than talking about #UAS, I would rather we talk about the pollution in Jakarta and how can we lessen the threat that is literally killing us slowly.

Disclaimer: This is my opinion and I welcome any feedback. I will not share any video that is mentioned.

Amatir Radio: YD0ABH

Hari ini saya mampir ke salah satu Blog seorang Amatir Radio, OM Benny (YD0SPU). Dari postingan beliau inilah saya jadi tahu bagaimana cara mendaftar Ujian Nasional Amatir Radio tahun lalu. Saya mengikuti pendaftaran dan kebetulan pada tahun lalu UNAR ditunda karena kurangnya peserta. Sayang sekali pada saat itupun saya tidak sempat ikut Bimbingan UNAR, mungkin pada waktu itu saya bisa berkenalan dengan banyak calon anggota maupun anggota lama ORARI. Pada hari-H UNAR-pun, saya datang lalu mengerjakan soal latihan, sebelumnya saya drill soal-soal yang banyak sudah tersedia di Internet. Ternyata drilling soal sangat membantu, saya menyelesaikan UNAR dengan singkat, mungkin salah satu peserta ujian Siaga pertama yang keluar hari itu. Singkat cerita, hasil ujian pun keluar dan ternyata hasilnya lulus.

Setelah lulus ujianpun saya melihat artikel dari OM Benny tentang pendaftaran ORARI dan pengurusan IAR sebelum boleh transmit di jaringan radio amatir. Melihat iuran izin amatir radio dan berbagai berkas yang perlu dilengkapi, sayapun akhirnya menunda terus pendaftaran. Sampai hari ini, saya sempat melihat kembali bahwa ada regulasi baru dari Kominfo yang mempermudah keluarnya Izin Amatir Radio. Setelah lulus UNAR, ternyata IAR sudah otomatis diberikan. Sayapun segera membuka website SDPPI (iar-ikrap.postel.go.id) dan ternyata, saya sudah memiliki IAR dengan callsign YD0ABH.

Jika Anda tertarik juga untuk menjadi Amatir Radio, silakan baca tulisan dari OM Benny:  https://x.benny.id/ujian-negara-amatir-radio-unar-jakarta-2019/

Mungkin dengan adanya izin IAR ini saya bisa melanjutkan kembali pengembangan jaringan LoRa APRS yang ingin saya buat sebelumnya yang terkendala karena belum mengurus Izin Amatir Radio untuk menguji transmisi.

(Akhirnya, saya bisa menuliskan kata penutup ini:)

73 de YD0ABH